Kilau motif dalam sehelai
kain songket tidak sekadar estetika. Motif dari jalinan benang ini penuh
filosofi sekaligus mengurai kekayaan Pulau Sumatra.
Songket menjadi bagian kekayaan kain tradisional
yang ada di Tanah Air. Lembaran kain bermotif benang emas menjadi ciri khas
kain tradisional yang terhampar di wilayah Sumatra, seperti Sumatra Barat,
Sumatra Selatan, Riau, dan Aceh. Kain menerjemahkan kedudukan masyarakat, nilai
religius, lambang adat istiadat, etika, dan estetika. Seperti halnya kain
tradisional lainnya, songket merupakan jati diri suatu daerah. “Kalau (kepala
kain) di depan, bagi orang Melayu artinya masih perawan. Kalau di belakang, artinya
punya suami. Kalau di samping apa ya, nggak ada suami,” terang Tengku Mira
Sinar, pengelola Yayasan Kesultanan Serdang, dalam acara bincang-bincang
sebagai rangkaian The Journey of Songket Sumatra, di Museum Tekstil, Jakarta,
Kamis (18/12) lalu, tentang makna kepala kain songket. (Baca: dekorasi hiasan dinding tapis kaligrafi)
Menurut Mira, pada kepala kain biasanya terdapat
motif yang paling padat dan biasanya dibingkai dalam bentuk persegi panjang.
Sebagai kain tradisional yang berasal dari Bumi Andalas, songket Sumatra secara
umum memang memiliki berbagai ciri khusus. Komposisi motif dalam selembar kain
dibedakan antara badan kain, sisi kain, dan kepala kain. Motif tersebut
memiliki makna saat digunakan sebagai busana, seperti kepala kain. Namun, di
daerah lain, kepala kain memilik makna yang berbeda. “Kalau di NTT (Nusa
Tenggara Timur), pakai kepala kain di depan berarti mengajak perang,” terang
Ratna Panggabean, peneliti kerajinan tradisional, Fakultas Seni Rupa dan
Desain, Institut Teknologi Bandung, yang juga jadi pembicara di acara tersebut.
Berbeda dengan batik, motif songket tidak dibuat dengan menggambar di atas
kain.
Namun, motif dibuat dengan memasukkan benang
tambahan ke arah pakan (membujur horizontal) maupun ke arah lungsi (membujur
vertikal). Untuk prosesnya dilakukan bersamaan dengan pembuatan kain. Maka
bukan tanpa alasan kalau songket berharga hingga puluhan juta setiap lembarnya.
“Sebab, pembuatannya terbilang rumit dan sulit,” ujar Mira. Di Sumatra, motif
songket lebih banyak dibuat mengikuti arah benang pakan, yaitu menambahkan benang
pada proses menenun ke arah horizontal. Hanya segelintir daerah yang
menggunakan lungsi tambahan, seperti untuk kain ulos dari Sumatra Utara.
Berbeda halnya dengan pakan tambahan, lungsi tambahan dilakukan dengan
menambahkan susunan benang sebelum pembuatan kain. “Untuk satu lubang bisa
diselipkan dua atau tiga benang tambahan,” ujar Mira.
Menurutnya, penggunaan benang emas pada songket
menunjukkan jika di Pulau Sumatra memang penuh emas. Sementara lungsi tambahan
lebih sering digunakan untuk pembuatan tenun di daerah timur, seperti Lombok.
Sistem Penggajian Keindahan kain songket memancing Erika Rianti dan suaminya,
Bernard Bart, seorang arsitek berkebangsaan Swiss, untuk melestarikan kain
tersebut. Demi mempertahankan motif-motif lama, mereka membuat replika motif
lama menggunakan benang sutra, bukan benang emas. Pasangan suami- istri ini
ingin menghidupkan kembali motif-motif lama. “Sebab kalau motif hilang, artinya
akan hilang itu bagian dari Minangkabau,” ujar Erika.
Kecintaannya diwujudkan dengan mendirikan Studio
Songket Sumatera Loom pada 2005. Di studio tersebut, mereka menenun songket
Minangkabau yang terkenal dengan kerumitannya, seperti songket dari Kuto
Gadang. Erika dan Bart tidak sendirian, mereka dibantu 10 perajin setempat yang
usianya masih tergolong muda, berusia sekitar 18 sampai 28 tahun. Para perajin
diajarkan untuk membuat songket berkualitas bukan songket yang cepat selesai.
Bahkan, Bart tidak segan-segan merombak songket kalau ada benang yang putus di
tengah pembuatan tenun yang memiliki 550 motif dalam selembar kain. Sistem
penggajian menjadi daya tarik kalangan muda untuk terjun membuat kain
tradisional ini. Mereka menerima gaji setiap minggu. Kalau kain selesai tepat
waktu, mereka akan mendapatkan bonus.
Sistem tersebut berbeda dengan penjualan kain
selama ini. Biasanya, perajin baru memperoleh uang kalau kain selesai ditenun.
Padahal, mereka membutuhkan waktu sekitar tiga sampai empat bulan untuk menenun
selembar kain. Dengan sistem jual lepas ini, para perajin sering mengalami kesulitan
keuangan. “Sementara mereka membutuhkan biaya untuk makan, bayar sekolah anak,
bayar listrik, dan sebagainya,” terang Erika. Sampai saat ini, Erika mengaku
masih belum mendapatkan keuntungan. “Tahun ini balance,” ujar dia singkat. Ia
menyadari bahwa penjualan songket tidak mudah.
Kain senilai 4 sampai 20 juta rupiah per lembar
tersebut dijual setiap ada pameran. Sementara biaya pembuatan songket berasal
dari uang pensiunannya sebagai sekretaris sebuah universitas di Swiss dan uang
pensiunan suaminya sebagai arsitek. Songket telah membius Erika dan Bart.
Bahkan, Bart yang telah melakukan penelitian sejak 1995 rela mencari benang
paling halus langsung dari produsennya di India, ketimbang hanya membeli di
Singapura. “Songket sudah seperti anak,” ujar Bart terbata-bata. Dengan map
berisi foto motif songket dan mesin pembuatnya, ia “menjajakan” songket dari
satu pameran ke pameran berikutnya. Upaya ini dia lakukan agar kain tradisional
ini tetap lestari.
Sumber:
http://www.koran-jakarta.com/