Thursday, December 3, 2015

Makna Dari Motif Songket

Kilau motif dalam sehelai kain songket tidak sekadar estetika. Motif dari jalinan benang ini penuh filosofi sekaligus mengurai kekayaan Pulau Sumatra.

Songket menjadi bagian kekayaan kain tradisional yang ada di Tanah Air. Lembaran kain bermotif benang emas menjadi ciri khas kain tradisional yang terhampar di wilayah Sumatra, seperti Sumatra Barat, Sumatra Selatan, Riau, dan Aceh. Kain menerjemahkan kedudukan masyarakat, nilai religius, lambang adat istiadat, etika, dan estetika. Seperti halnya kain tradisional lainnya, songket merupakan jati diri suatu daerah. “Kalau (kepala kain) di depan, bagi orang Melayu artinya masih perawan. Kalau di belakang, artinya punya suami. Kalau di samping apa ya, nggak ada suami,” terang Tengku Mira Sinar, pengelola Yayasan Kesultanan Serdang, dalam acara bincang-bincang sebagai rangkaian The Journey of Songket Sumatra, di Museum Tekstil, Jakarta, Kamis (18/12) lalu, tentang makna kepala kain songket. (Baca: dekorasi hiasan dinding tapis kaligrafi)

Menurut Mira, pada kepala kain biasanya terdapat motif yang paling padat dan biasanya dibingkai dalam bentuk persegi panjang. Sebagai kain tradisional yang berasal dari Bumi Andalas, songket Sumatra secara umum memang memiliki berbagai ciri khusus. Komposisi motif dalam selembar kain dibedakan antara badan kain, sisi kain, dan kepala kain. Motif tersebut memiliki makna saat digunakan sebagai busana, seperti kepala kain. Namun, di daerah lain, kepala kain memilik makna yang berbeda. “Kalau di NTT (Nusa Tenggara Timur), pakai kepala kain di depan berarti mengajak perang,” terang Ratna Panggabean, peneliti kerajinan tradisional, Fakultas Seni Rupa dan Desain, Institut Teknologi Bandung, yang juga jadi pembicara di acara tersebut. Berbeda dengan batik, motif songket tidak dibuat dengan menggambar di atas kain.

Namun, motif dibuat dengan memasukkan benang tambahan ke arah pakan (membujur horizontal) maupun ke arah lungsi (membujur vertikal). Untuk prosesnya dilakukan bersamaan dengan pembuatan kain. Maka bukan tanpa alasan kalau songket berharga hingga puluhan juta setiap lembarnya. “Sebab, pembuatannya terbilang rumit dan sulit,” ujar Mira. Di Sumatra, motif songket lebih banyak dibuat mengikuti arah benang pakan, yaitu menambahkan benang pada proses menenun ke arah horizontal. Hanya segelintir daerah yang menggunakan lungsi tambahan, seperti untuk kain ulos dari Sumatra Utara. Berbeda halnya dengan pakan tambahan, lungsi tambahan dilakukan dengan menambahkan susunan benang sebelum pembuatan kain. “Untuk satu lubang bisa diselipkan dua atau tiga benang tambahan,” ujar Mira.

Menurutnya, penggunaan benang emas pada songket menunjukkan jika di Pulau Sumatra memang penuh emas. Sementara lungsi tambahan lebih sering digunakan untuk pembuatan tenun di daerah timur, seperti Lombok. Sistem Penggajian Keindahan kain songket memancing Erika Rianti dan suaminya, Bernard Bart, seorang arsitek berkebangsaan Swiss, untuk melestarikan kain tersebut. Demi mempertahankan motif-motif lama, mereka membuat replika motif lama menggunakan benang sutra, bukan benang emas. Pasangan suami- istri ini ingin menghidupkan kembali motif-motif lama. “Sebab kalau motif hilang, artinya akan hilang itu bagian dari Minangkabau,” ujar Erika.

Kecintaannya diwujudkan dengan mendirikan Studio Songket Sumatera Loom pada 2005. Di studio tersebut, mereka menenun songket Minangkabau yang terkenal dengan kerumitannya, seperti songket dari Kuto Gadang. Erika dan Bart tidak sendirian, mereka dibantu 10 perajin setempat yang usianya masih tergolong muda, berusia sekitar 18 sampai 28 tahun. Para perajin diajarkan untuk membuat songket berkualitas bukan songket yang cepat selesai. Bahkan, Bart tidak segan-segan merombak songket kalau ada benang yang putus di tengah pembuatan tenun yang memiliki 550 motif dalam selembar kain. Sistem penggajian menjadi daya tarik kalangan muda untuk terjun membuat kain tradisional ini. Mereka menerima gaji setiap minggu. Kalau kain selesai tepat waktu, mereka akan mendapatkan bonus.

Sistem tersebut berbeda dengan penjualan kain selama ini. Biasanya, perajin baru memperoleh uang kalau kain selesai ditenun. Padahal, mereka membutuhkan waktu sekitar tiga sampai empat bulan untuk menenun selembar kain. Dengan sistem jual lepas ini, para perajin sering mengalami kesulitan keuangan. “Sementara mereka membutuhkan biaya untuk makan, bayar sekolah anak, bayar listrik, dan sebagainya,” terang Erika. Sampai saat ini, Erika mengaku masih belum mendapatkan keuntungan. “Tahun ini balance,” ujar dia singkat. Ia menyadari bahwa penjualan songket tidak mudah.

Kain senilai 4 sampai 20 juta rupiah per lembar tersebut dijual setiap ada pameran. Sementara biaya pembuatan songket berasal dari uang pensiunannya sebagai sekretaris sebuah universitas di Swiss dan uang pensiunan suaminya sebagai arsitek. Songket telah membius Erika dan Bart. Bahkan, Bart yang telah melakukan penelitian sejak 1995 rela mencari benang paling halus langsung dari produsennya di India, ketimbang hanya membeli di Singapura. “Songket sudah seperti anak,” ujar Bart terbata-bata. Dengan map berisi foto motif songket dan mesin pembuatnya, ia “menjajakan” songket dari satu pameran ke pameran berikutnya. Upaya ini dia lakukan agar kain tradisional ini tetap lestari.

Sumber:

http://www.koran-jakarta.com/

No comments:

Post a Comment